Jakarta makin parah, ahlinya kemana?

“Serahkan Jakarta pada Ahlinya”, itulah slogan yang di pakai oleh Bang Foke sewaktu kampanye beberapa tahun lalu tapi lihat sekarang, apa yang terjadi? jakarta semakin amburadul, menyelesaikan masalah dengan membuat masalah yang baru, itu intinya :D . Jangan pilih ahlinya lagi, gubernur bukan jabatan ahli tapi jabatan politis, belum tentu yang jadi menpora jago main bola dan belum tentu pemain bola jadi menpora.

Jakarta itu kota yang kompleks, butuh pemimpin yang berani bertindak bukan hanya berani “ngomong”. Anehnya lagi bang Foke malah terpilih sebagai Presiden Serikat Kota dan Pemerintah Daerah Asia Pasific atau United Cities and Local Goverments Asia Pasific (UCLG ASPAC). Mau di bawa kemana Jakarta? kasusnya sama seperti Sri Mulyani yang jadi Director Manager Bank Dunia padahal urusan Century saja tidak beres-beres. Dalam benak saya kepada warga Jakarta, “syukurin…makanya kalo milih pemimpin tuh yang bener!!!grrrrrr.., efeknya kan jadi bisa merembet ke orang urban kayak gw, yg pulang pergi jakarta-bogor, gw ke kantor jadi telat deh :( , udah hujan, becek, ….” apalagi orang-orang yang pake mobil, udah gitu cuma 1 orang lagi di dalam mobil, beh…kan cari ribut tuh namanya, macet itu kan gara-gara mereka yang pake mobil pribadi pada saat jam kerja yang isinya cuma driver dan penumpang = 1 orang, coba mereka naik busway atau transportasi umum.

Jakarta milik kita bersama, oleh karena itu marilah pada pemilukada DKI yang akan datang, jangan takut untuk memilih yang tidak hanya mengobral janji saja apalagi sampai mengaku “ahli”nya tapi hasilnya NOL besar! Seharusnya Jakarta ini bukanlah hanya kewenangan gubernur saja tapi gubernur beserta jajaran yang terkait seperti anggota DPRD Jakarta haruslah membenahi Jakarta yang semakin tak karuan, mungkin karena hampir 80% anggota DPRD adalah konco dari Bang Foke pada pemilukada yang lalu, masyarakatnya boleh madani tapi infrastrukturnya ujungberung punya :D . Buka mata,hati dan pikiran anda, pilih yang benar-benar bisa membangun Jakarta, ini merupakan bukti bahwa mereka(partai) yang tergabung dengan koalisi bang foke hanyalah “takut” kalau salah satu partai berbasis Islam menang, koalisi untuk kebobrokan! aneh bin ajaib! so, kebanyakan partai semakin banyak kepentingan. Ayoooo….Jakarta Bisa!

  • http://- spiritforindonesia

    Ini masalah yang kompleks broo..nt bilang “isinya cuma driver dan penumpang = 1 orang, coba mereka naik busway atau transportasi umum.” –> ini memang benar sih.. cuma ya itu.. coba lihat apakah infrastruk jakarta udah bener?? mana mau manager naik kopaja yang asepnya ngebul item ijo gtu like bus 75 and 57 :D .. intinya masalah ini ga bisa di selesaikan selama tidak ada kesadaran dari semua orang yang terkait… klo semua cinta dan disiplin saya yakin.. semuanya pasti termujud..

    # Admin: yoi..kan klo mereka (manager2 atau bos atau apalah itu namanya) sadar klo mobil2 mereka itu buikin macet jakarta bleh jadinya separah ini, seenggaknya klo mereka jijay ama bus toh mereka bisa jalan kaki, klo mereka jalan kaki kan asumsinya berarti (mobil berkurang = bebas polusi) , jadi jalan kaki deh, kayak di luar negeri sono :D

  • http://www.syahrazadhumeira.com dawud

    hmm..iya juga yah, kalau manager kan maunya sampe kantor bajunya masih rapi dan wangi, kalau naik kopaja kan udah wassalamu’alaykum tuh baju…hehe..

    eniwei..saya yakin ada solusi yang tepat selama semua pihak bisa bersikap terbuka dan peduli dengan semua kondisi yang ada. suatu riset di jakarta tentang kemacetan memprediksi bahwa, tahun 2014 jakarta akan macet total karena luas infrastruktur jalan akan sama dengan luas seluruh kendaraan bila dibandingkan secara lurus…hope that situation never gonna be happened..

    manager, beda dengan leader sih ya. kalau manager itu, do things right, kalau leader do the right things…nah,, suka lihat ga kalau di jalan kan sekarang lagi musim yang namanya komunitas bike to work, alias yang pake sepeda gunung keren2 itu kalau mau berangkat ngantor, kuliah atau jalan-jalan..kebanyakan mereka adalah para eksekutif muda lo di kantornya…sampai di kantor, baru deh mandi dan ganti baju, lebih fresh lagi…selain itu meminimalkan polusi jalan, yang berarti menyelamatkan bumi, yang berarti menjadi khalifah juga yang memakmurkan bumi..walau yah bukannya kaburo maktan indallahi, saya belum bisa kayak mereka yang keren naik sepeda kemana-mana…yah kan saya belum jadi manager yang leader..masih memanage keleaderan aja…:D

    semangat berbagai, salam ceria sehangat jihad akhi…:)

    # Admin: yoi bleh..bike to work ya?hmm…citayam – mampang = isra mi’raj :P

  • http://harry.sufehmi.com sufehmi

    Tahun 2002, New Delhi (India) sudah memiliki MRT (Mass Rapid Transport system) sebanyak 4 jalur.
    Padahal, kotanya lebih lengang daripada Jakarta.

    Jakarta ? Baru survei :(
    Selesainya entah kapan, kalau tidak salah, 2020 untuk jalur pertama (Lebak Bulus – Kota)

    Ya, sudah terlambat. Sudah terlanjur deadlock duluan.

    Untuk perspektif :

    NEGARA Malaysia : 28 juta penduduk
    Kota Jakarta : 24 juta penduduk
    (ref: Wikipedia)

    Jakarta sudah SANGAT amat terlambat memiliki MRT. Seharusnya, kalau menilik contoh New Delhi, kita sudah memiliki MRT dari SEBELUM tahun 2000.

    Menilik daftar Gubernur Jakarta selama ini (1), berarti ini eksklusif adalah kesalahan pasangan Sutiyoso & Fauzi Bowo.

    Kenapa MRT ?

    Karena hanya MRT yang mempunyai cukup kapasitas untuk memenuhi kebutuhan transportasi kota Megapolitan seperti Jakarta.

    Per jalur MRT memiliki kapasitas 50.000 / penumpang / jam.
    Jadi, setiap jalur MRT akan bisa melayani sekitar 500.000 penumpang / hari.

    Ini JAUH diatas solusi lainnya. SELURUH jalur Busway yang ada baru hanya bisa melayani 200 ribu penumpang / hari (2). SANGAT sedikit dibawah kapasitas bahkan 1 jalur MRT.

    Padahal, Singapura saja sudah memiliki 4 jalur MRT.

    Dan, Busway memiliki banyak masalah yang tidak ditangani dengan benar. Kita sudah coba sendiri, seperti halte yang sangat tidak nyaman, sesak. Bis yang entah kapan muncul & selalu penuh, dst.
    Masalah ini tidak ada pada MRT, seperti yang sudah saya coba di Singapura & London.

    Solusi selain MRT – busway, monorail, dll – hanya akal-akalan & permainan saja; karena TIDAK akan mencukupi kebutuhan transportasi penduduk Megapolitan Jakarta, yaitu 17.500.000 penumpang / hari (2).

    Setelah MRT

    Setelah adanya MRT, yang didukung oleh jaringan transportasi publik yang baik & nyaman (Park & Ride, jalur transportasi dari kota-kota satelit, Hilangkan sistim Setoran, dst), maka otomatis pengguna mobil pribadi akan beralih ke transportasi publik.

    Saya sendiri ketika sedang bekerja di luar negeri lebih sering menggunakan transportasi publik.
    Karena nyaman, biayanya terjangkau, dan tepat waktu.

    Sejak 2002, saya juga rutin ke kantor menggunakan sepeda, di jalur khusus sepeda yang disediakan di waterway Birmingham.

    Jakarta butuh solusi transportasi PUBLIK yang MASSAL & berkapasitas besar. Bukan yang ecek-ecek / kecil-kecilan seperti Busway & Monorail.

    Oh ya, beberapa hari yang lalu, ketika sedang terjebak macet di Mampang, saya lihat mobil HUMMER di sebelah saya plat nya adalah “B16 70SO”, dan ada stiker “Granat / Gerakan Anti Narkotika”

    Apakah ini mobilnya Sutiyoso ? Jika ya, berarti dia sudah menikmati warisannya sendiri – macet total di Jakarta, bersama saya ketika itu :)

    Maaf jadi panjang lebar disini :)

    (1) http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Gubernur_Jakarta

    (2) http://www.ylki.or.id/Articles/view/smart-card-dan-pemiskinan-rakyat

    # Admin: iya, Jakarta sudah terlanjur amburadul dan sepertinya anda cocok ney jadi penasehat tata ruang di Jakarta :P
    terima kasih sudah berkunjung :D

  • Kampung Perawan

    Iya jakarta makin kacau, macetnya terutama.. kita mau salahin siapa? Mungkin salah satu penyebabnya pedagang yang terlalu memakan badan jalan. Tapi gak tega juga nyuruh mereka berhenti berdagang. Juga parkir mobil pada yang bener ya?

    # Admin: salahin pemerintah dan aparatur daerah setempat yg ga mampu menjadi pengayom masyarakat, gmn mw ngatur rakyat toh ngatur hidup ndirinya aja susah, Ayo Revolusi Jakarta!

  • http://coretankoe.blogdetik.com/ keluarga bahagia

    sekarang kita tuntut aja tuh foke
    “CUKUR KUMISNYA…CUKUR KUMISNYA…CUKUR KUMISNYA SEKARANG JUGA…!!!!! SEKARANG JUGAAAAA….AAAA!!!!!
    ================

    # Admin: setuja! cukur kumisnya dan mulailah pelihara jenggot :p

  • http://obatherbal.xamthone-plus.net/ aradeamarkatin

    Sebenernya masalah jakarta terutama berhubung kait dengan kemacetan dan banjir itu sekarang harusnya bukan lagi menjadi masalah pemda dki saja,tapi sudah menjadi masalah negara.Karena ahlinya dki itu sudah angkat tangan,klo nggak bisa dibilang harus segera angkat kaki,negara harus segera turun tangan dan tidak hanya menyerahkan masalah ini kepada gubernur jakarta saja.Negara harus punya blue print pembangunan yang jelas,karena posisi jakarta sebagai ibukota negara.Stop pembangunan perumahan secara horisontal,mulailah berpikir secara vertikal.Coba anda bayangkan kalo ada 1000 kk masing masing menempati lahan minimal 200 m2,akan ada 200.000 m2 tanah yang dihemat kalo kita membangun secara vertikal,tanah seluas itu bisa di gunakan untuk pembangunan taman,sarana ibadah,pelebaran jalan,dll.Saya ikut bermimpi kalo di tengah kota jakarta itu ada sungai yang lebar denga transportasi airnya ang bisa menghubungkan daerah hinterland atau penyangga dki yaitu jawa barat dan banten,maka selain masalah kemacetan akan teratasi,juga aka mengatasi masalah banjir yang sampaihari ini belum bisa di atasi sama ahlinya itu..

    # Admin: hmm..seandainya pihak berwenang yang mengurus ibu kota mempunyai pikiran yang sama sprti anda, mngkin Jakarta akan lebih baik :D

  • http://etikush.blogspot.com etikush

    uda, pada pindah aja ke banjar…
    disini sepi…
    beda banget ama bogor ato jakarta…
    hehehe…
    lagian klo tinggal di banjar begini,
    bis mudiknya pun gak rebutan,
    kosong melompong…
    soale jarang banget ada orang mudik dari banjar ke bogor…
    :)

    # Admin: pindah ke banjar? tawaran yg sulit tapi menggiurkan :D , infrastrukturnya memadai ga ya? hehe

Indonesia Tanpa JIL

Switch to our mobile site